Kutiman, Rockstar YouTube

Kutiman

5 tahun yang lalu, Techcrunch menyebut Kutiman sebagai bintang musik pertama yang lahir dari Twitter. Saya terjemahkan:

Selain aspek penciptaan musiknya yang revolusioner, Kutiman juga memiliki cerita yang menarik dari sisi media sosial. Seluruh efek bola salju yang terjadi dan menyebabkan video dilihat lebih dari 1 juta kali, website yang rusak (karena pengunjungnya terlalu banyak), dan buzz dimana-mana, dimulai oleh 3 orang yang terlibat dalam projek ini. Mereka mengirimkan email ke 20 orang, dan berita menyebar dari situ. Dari tidak ada yang melihat hingga 1 juta kali dalam waktu kurang dari 7 hari, tanpa melibatkan biaya pemasaran, mencurangi ataupun mengoptimisasi mesin pencari. Konon, tim pendukung Kutiman bergantung pada penyebaran berita di Twitter. Jika itu benar, maka Kutiman adalah bintang musik pertama yang lahir di Twitter. Tidak diragukan lagi, kita akan melihat lebih banyak lagi musisi yang lahir dengan model serupa di masa depan.

Sayangnya prediksi Techcrunch kurang tepat. Banyak yang mencoba tapi gagal. Hingga semalam melihat video “Give It Up” di atas, Kutiman memiliki keunikan yang tidak bisa ditiru oleh musisi lain. Dimulai dari aspek penciptaan musiknya. Dia berhasil menggunakan materi yang ada di YouTube, dan menjadikannya komposisi musik yang baik, sehingga orang antusias memperbincangkannya lewat media sosial. Dan semuanya bergulir dari situ.

Radiohead, Amanda Palmer, OK GO, Foo Fighters, dan beberapa musisi lain juga menemukan cara untuk sukses komersial di era digital. Yang menyamakan mereka adalah masing-masing mengerti strategi apa yang harus diimplementasikan secara detail, dari mulai penciptaan produk, hingga pemasaran dan distribusi.

Apa yang bertahan dari era keemasan industri rekaman musik adalah penciptaan nilai. Siapa yang menciptakan nilai, dia akan bertahan. Karena tidak ada lagi strategi one fits all seperti ketika major label masih bisa mengendalikan apa yang kita dengar, lihat, dan lewat media apa kita harus mendengarkan musik. Buktinya, perusahaan se-powerful Apple tidak bisa memaksa pengguna iTunes untuk mendengarkan album baru U2 yang buruk.

Music industry is dead. Long live music industry.

By Robin

Jack of all trades living in SF Bay Area, California. Asian.

0 comments

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *