Masa Depan Konsumsi Musik Lewat Layanan Digital

headphone

Pagi ini saya menemukan artikel wawancara dengan Global Head Business-nya Spotify, Jeff Levick. Banyak insight yang sangat menarik dan membuat saya berpikir ulang tentang konsumsi musik di masa depan. Artinya, saya tahu bahwa produk berbasis musik akan dikonsumsi secara massal dimasa depan. Layanan musik streaming juga akan mengakselerasi perubahan.

Meskipun demikian saya sendiri belum bisa melihat bagaimana industri musik akan menjadikan musik streaming sebagai medium utama konsumsi musik. Tapi insight dari wawancara ini memberikan alasan yang jelas, mengapa layanan seperti Spotify yang sudah berjalan lebih dari 7 tahun dan masih merugi, tapi terus menerus maju dan ada saja investor yang mau membantu. Ternyata, masa depannya cerah sekali.

Beberapa pelajaran dari wawancara tersebut saya rangkum dibawah ini:

  • Spotify, seperti kebanyakan layanan streaming lain seperti Deezer, Rdio, dan Guvera adalah bisnis Freemium. Inti dari akun gratis (yang kontroversial) adalah agar Spotify bisa membawa pengguna menjadi pelanggan yang tentunya, berbayar.
  • Spotify sudah mengeluarkan uang $1 milyar untuk membayar Creator, dan ini potensi penghasilan yang selama ini sebenarnya sudah hilang  (musisi di masa keemasan CD pun ternyata tidak dibayar lebih besar dari sekarang). Pasar utama Spotify adalah millenials, jadi dimasa depan konsumsi musik akan benar-benar berubah.
  • Sekarang, 25% penghasilan industri musik di New Zealand berasal dari streaming, naik 9% dari tahun sebelumnya. Pembajakan turun 30% (saya tidak tahu ini angka dari mana, tapi seperti Norwegia, keberadaan layanan musik streaming juga meningkatkan konsumsi musik).
  • Di Australia, seperti di banyak negara lain, Spotify bekerjasama dengan perusahaan telco yang memberikan layanan baik data gratis maupun alokasi paket data tertentu, untuk meningkatkan konsumsi musik streaming tanpa terhalang masalah keterbatasan paket data (mengatasi masalah nomor 3).
  • Asia adalah market yang masih kecil (seperti yang sudah saya ketahui lewat data yang saya dapat lewat laporan penjualan Musikator), dan masing-masing negara punya keunikan sendiri yang tidak bisa digeneralisir.
  • Layanan streaming global akan memberikan pengalaman musik global pula.
  • Agency periklanan dan pemilik merk mulai melirik industri streaming yang kaya dengan data dan penggunaan musik yang sangat tinggi (di Spotify sendiri ada penggunaan 1 milyar jam streaming musik sebulan).

Berdasarkan insight di atas, maka pekerjaan rumah kita di Indonesia adalah:

  • Membantu mengenalkan bisnis fremium ke pasar Indonesia. Model dan skenario apa yang akan berhasil di Indonesia kita akan lihat nanti. Perlu banyak uji coba.
  • Mentargetkan millenials.
  • Mengedukasi mereka (millenials) soal streaming musik sebagai alternatif dari pembajakan.
  • Menganjurkan perusahaan-perusahaan telco untuk bekerjasama dengan layanan streaming untuk pengadaan paket data yang mendukung konsumsi musik streaming.
  • Penetrasi pasar ditingkatkan, Indonesia juga bisa belajar dari negara tetangga seperti Singapura dan Filipina dan mengimplementasikan strategi yang menarik khusus pasar Indonesia.
  • Membuka diri kepada layanan streaming global dan memberikan dukungan-dukungan khusus kepada layanan musik lokal untuk pengembangan produk.
  • Mulai mengajak kerjasama agensi periklanan dan pemilik merk untuk melakukan aktivasi di ranah musik digital.

Sumber gambar: Lubomir Panak (CC BY-NC-SA 2.0).

By Robin

Jack of all trades living in SF Bay Area, California. Asian.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *