Musisi Bukan Hanya Bikin Lagu dan Ditanggap

Buat saya, yang lebih mengerikan akhir-akhir ini adalah melihat sebagian besar musisi hanya bungkam melihat ketidakadilan dan diskriminasi yang terjadi terang-terangan berulang kali di Indonesia.

Padahal sudah jelas, musisi (dan musiknya) bisa mempengaruhi orang, bahkan sudah terbukti berulang sampai bisa memenangkan pemilihan pejabat negara, bahkan hingga presiden. Musik bukan sekedar hiburan (lonte juga bisa kalau hanya menghibur doang mah), tapi musik juga adalah suara kultural, sosial, politik bahkan ekonomi. Musisi bisa mewakili suara orang-orang yang suaranya tidak didengar. Musik berulangkali sudah terbukti bisa merubah dunia.

Di negara maju jika ada isu rasial, diskriminasi terhadap segolongan agama atau orientasi seksual, maka musisi beramai-ramai berteriak dengan lantang. Di Indonesia? Mereka diam. Seperti biasa, entah siapa yang ngajarin, mereka sangka tugas mereka hanyalah bikin lagu dan ditanggap.

“Yah bro, boro-boro lah, jualan lagu aja susah”. Ya justru itu. Udah jualan lagu susah, gak perduli pula pada lingkungan sosial. Jadi apa gunanya bermusik? Gak ngerti lagi mau apa ini orang-orang yang mengaku musisi.

Ini harus berubah. Jika angkatan musisi sekarang tidak bisa diandalkan lagi, ya sudah. Angkatan berikutnya harus dibentuk seperti itu. Ini adalah perang melawan ketidakperdulian di kalangan musisi.

By Robin

Jack of all trades living in SF Bay Area, California. Asian.

3 comments

  1. Robby Navicula oke banget, melani soebono oke juga, sid barusan menolak lagunya dipakai untuk jokowi

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *