Menikmati Linimasa Facebook

Robin Malau Facebook

Saya mulai menggunakan Facebook kurang lebih berdekatan dengan mulai menggunakan Twitter di tahun 2007. Sejak itu, saya punya hubungan suka dan tidak suka dengan website social media paling besar di dunia, dan di Indonesia tersebut. Tapi tidak pernah menjadi tempat utama, selama ini Twitter, Google+ atau bahkan Path, yang menjadi tempat utama.

Sekitar sebulan lalu, sebelum menutup account Path, Facebook kembali menjadi tempat utama saya berbagi dan berjejaring. Mengapa? Karena sifat relasinya yang mendasar, yaitu mutual connection. Jadi koneksi di sana memang bisa disortir hanya teman yang memang kenal (atau tidak begitu kenal tapi orangnya ok, dan sejenisnya). Itulah yang saya lakukan sebulan terakhir, yaitu menyortir koneksi di sana.

Caranya sederhana, saya membuka app Facebook di mobile atau di Macbook Air lewat browser, lihat linimasa, dan:

  1. Jika melihat nama yang tidak saya kenal, apalagi namanya semodel Akyu CinTya Kamu Lucuk Sekalih, langsung saya unfriend. Jangan tanya kenapa saya bisa berteman dengan akun seperti itu tapi memang kejadian, beberapa dari mereka jadi teman di Facebook. Entah bagaimana.
  2. Jika melihat nama yang saya kenal tapi kerjaannya berdoa, berpikir negatif, menghina golongan dan agama lain, saya unfollow atau unfriend. Tergantung, jika sedang hanya euphoria, misalnya karena Jokowi baru menang tapi terlalu cerewet, saya unfollow. Kalau saya intip profilnya dan isinya semua berkenaan dengan perang antar agama, maka saya unfriend.
  3. Jika melihat nama yang saya kenal tapi berdoanya sudah aneh banget sampe menghina kepercayaan lain (berdoa kok sambil menghina), langsung saya unfriend.

Selain menyortir dan mengurangi koneksi, saya juga subscribe ke banyak Page baru yang unik atau memang berguna. Saya juga set akun jadi private, jadi sulit ditemukan oleh orang ga jelas dan post saya tidak/jarang saya set public sehingga tidak bisa ditemukan di search engine.

Walhasil, lama kelamaan, linimasa Facebook menjadi menyenangkan. Mulai banyak link yang berguna seperti Twitter ketika belum penuh postingan sampah orang Indonesia (serius, orang Indonesia di LinkedIn aja nyampah! *geleng-geleng kepala*). Banyak post yang positif, cerdas dan membangun. Bahkan banyak diskusi yang menarik. Serius, di Facebook, saya menemukan dan terlibat banyak diskusi menarik akhir-akhir ini. Dan tidak semua berhubungan dengan pilpres.

Long may this continue!

By Robin

Jack of all trades living in SF Bay Area, California. Asian.

0 comments

  1. Pingback: Storyette

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *