THE BEST REVENGE IS LIVING WELL

Hello, it’s been a while. Akhir-akhir ini hidup gua sibuk tapi malas; walhasil berat badan naik lagi. Hampir ngga ada inspirasi untuk nulis newsletter lagi sampai tadi malam gua nonton serial komedi SEINFELD di televisi.

Sebelumnya, sore-sore, gua jemput istri di kantornya. Di sebuah persimpangan jalan gua nerobos jalur kanan, karena kosong, dan hal ini selalu gua lakukan karena lampu hijau disitu sebentar banget. Sekonyong-konyong muncul angkot cicaheum-ciroyom di jalur berlawanan, dan gua mentok terhalang, jadi terpaksa masuk lagi ke jalur kiri sambil di klakson sama mobil-mobil di belakang. Fuck, gua kesel banget, dalam hati gua menggerutu, ‘si angkot goblok itu merusak rencana gua’. Saat ngelewatin angkot tadi, gua denger supirnya ngomong dengan santai, ’mau kemana atuh kang…’, dan spontan gua buka kaca dan berteriak dengan kata-kata sangat kasar dan sangat keras, pokoknya state of mind-nya gua pengen marahin supir tadi sepuas-puasnya. Pokoknya supir angkot: f*** f*** f***! Walhasil gua memang puas. Sampai di kantor istri, gua ceritain kejadian tersebut dan dia nanya; ‘jadi itu teh salah siapa?’ Gua jawab, ‘salah angkot, mereka ngga berhak benar dalam masalah berlalu lintas’.

Sebagian besar dari kita mungkin memang bermasalah dengan angkot. Di hampir sepanjang perjalanan angkot (sebagian besar berpenumpang kosong) selalu bersliweran seenak udelnya dan kita marah sama mereka. Tingkat kebencian gua sama pengemudi lain, angkot (dan motor yang suka nabrak spion dan disentak malah nyentak balik) sudah sangat tinggi, sampai-sampai jika gua salah pun gua masih nyalahin mereka. Seperti sebuah dendam. Pokoknya bawaannya ingin menghancurkan semua yang menghalangi dan berdoa semoga mereka mati ngga lama lagi dan masuk neraka.

Hell. Sebenernya hidup seperti itu bikin gua capek sendiri. Gua ingat gua puas banget maki-maki supir angkot itu tapi sebaliknya gua cape hati. Membalas dendam seperti itu ngga ada abisnya. Contoh; pagi ini saat gua antar istri ke kantor, dan, bisa diduga, angkot-angkot itu kembali menguasai jalanan. Sangat jelas ini bukan kapasitas gua untuk bisa balas dendam dengan cara seperti itu. Dipikir-pikir, hidup gua jauh lebih baik daripada mereka. Bukankah itu adalah media pembalasan dendam yang baik? Bahkan sangat baik.

Memang bukan hanya angkot yang bikin kita kesel, banyak lagi. Dan ini terjadi setiap hari dalam kehidupan. Tapi kita ngga bisa balaskan dendam dengan rajin berdoa agar mereka semua cepat mati dan masuk neraka. Kita bisa hidup sendiri, hidup lebih baik, menjadi yang terbaik sebagai diri sendiri dan terus menerus mendapatkan yang lebih baik sebagai media pembalasan dendam terhadap apapun yang kita benci. Jadi gua setuju sama yang dikatakan Jerry Seinfeld, ‘the sweetest revenge is to live well…’

-Lowrobb March 2006-

Originally published in I’M STOKED!! newsletter, March 2006

Author: Robin

Jack of all trades living in SF Bay Area, California. Asian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *