Implementing Situational Leadership

Managing People to Perform
– Konsep ini menekankan pada lapisan dasar, karena berhubungan dengan bagaimana konsep kepemimpinan atau manajemen ini muncul dari dasar. Apakah hal ini memberikan kontribusi pada ‘produktivitas’? Inilah yang disebut dengan manajemen yang efektif.
– Dimulai dengan “Satellite Model of Organizational Performance” (Kepemimpinan Strategi), kemudian diikuti dengan beberapa taktik atau pendekatan operasional (Kepemimpinan Operasional) untuk mencapai kinerja organisasi, dengan penekanan pada ‘manajemen kualitas’ (TQM).

Organizational Performance
– Model stratejik menetapkan bahwa kinerja organisasi merupakan produk dari banyak faktor; struktur, knowledge, non human resources, strategic positioning, dan human process.
– Strategi merupakan integrasi perencanaan yang luas dari tindakan-tindakan dalam mencapai tujuan organisasi, dimana tujuannya adalah meningkatkan produktivitas manusia. Semua tindakan memberikan kontribusi pada kinerja (performance).
– Performance Management (manajemen kinerja) dibangun atas dasar filosofi ‘kepemimpinan situasional’.
– Manajer harus menggunakan ‘strategi pemecahan masalah’ yang cocok dengan ‘keinginan pegawai dalam situasi yang unik’.
– Performance management memberikan kepada manajer ‘penggunaan petunjuk yang mudah’ dalam menganalisis situasi kerja, menentukan mengapa masalah kinerja muncul, dan memilih strategi pemecahan masalah yang dihadapi pegawai.
– ‘Keuntungan signifikan lainnya dari pendekatan situasional pada performance management’ yaitu bahwa hal ini memberikan ‘kerangka efektif’ dimana pelatih dapat menggunakannya untuk mengembangkan para manajer dalam perencanaan kinerja, bimbingan dan penilaian kinerja.

One Minute Management
– Manajemen Satu Menit, merupakan kepemimpinan situasional

– Manajer satu menit memfokuskan pada 3 konsep yang kuat, yang diambil dari prinsip-prinsip modifikasi perilaku yang menjadikan kepemimpinan situasi menjadi hidup bagi para manajer:
1. One minute goal setting (penetapan tujuan)
2. One minute praisings (memuji-muji), dan
3. One minute reprimands (teguran-teguran)

– Goal Setting adalah suatu bagian kunci dari ‘contracting for leadership style’ – yang mengijinkan seorang manajer menganalisis aspek khusus tentang tugas dari tingkat kesediaan pegawai.
– One minute praising adalah suatu bagian penting dari proses pengembangan.
– One minute reprimand adalah suatu strategi yang potensial berguna dalam hubungannya dengan perkembangan masa depan, ketika dan apabila hal ini terjadi.

Effective Follow-Up
– Kesulitan organisasi adalah implementasi ‘konsep dan teknik ilmu perilaku’.
– Implementasi adalah memuat masalah (problem laden) dan menyita waktu (time consuming).
– Banyak perusahaan gagal mengimplementasikan rencananya karena ‘the lack of follow up’.
– Perusahaan kebanyakan mencari konsep manajemen lain, dan lupa akan apa yang sudah ditetapkan.
– Top manajemen memandang bahwa pelatihan sebagai tunjangan tambahan ? suatu tambahan yang baik yang dapat diberikan kepada pegawai sebagai anggaran yang diijinkan.
– Setiap konsep manajemen ? APAKAH HAL ITU BERLAKU PADA PEKERJAAN SEHARI-HARI? Pembuktiannya adalah pada ‘aplikasi’.

Making Decisions That Stick
– Dua kegiatan penting manajer: ‘membuat keputusan sebagai petunjuk’ dan ‘membuat janji’.
– Keahlian penting dalam setiap tahap manajemen ? implementasi kepemimpinan situasional.
– Setiap 9 menit seorang manajer mengambil keputusan.
– 4 gaya pembuatan keputusan adalah : authoritative, consultative, fasilitative, dan delegative.
– Setiap gaya manajer memiliki konsekuensi logis dalam memimpin bawahannya, sehingga dapat menentukan arah tujuan organisasi.

By Robin

Jack of all trades living in SF Bay Area, California. Asian.

0 comments

    1. Intinya Situational Leadership, menurut pengertian saya, adalah Pemimpin itu harus memperhatikan situasi dalam mengambil keputusan.

      Misalnya ada murid yang mencoret-coret tembok kelas, karena anaknya memang sangat nakal, dihukum dijemur dengan posisi hormat ke tiang bendera. Sementara itu ada anak lain, yang mencorat-coret tembok kelas, karena IQ nya terlalu tinggi. Dia tidak dihukum seperti anak nakal tadi, tapi dipindahkan kelas yang bisa menangani hiperaktifnya.

      Begitu juga dalam memimpin organisasi. Tidak semua kasus problem dipecahkan dengan cara yang sama.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *