Merekam Audio untuk Vlog

Sudah lama sekali saya tidak posting artikel teknis. Di postingan terdahulu saya sering berbagi perihal pengembangan web, terakhir soal mengganti password WordPress lewat phpMyAdmin yang saya terbitkan 2 tahun lalu. Saya selalu menyisihkan tempat untuk pekerjaan teknis di keseharian saya, karena meski secara umum pekerjaan saya bersifat manajerial dan konseptual, memiliki pengetahuan teknis seringkali menjadi kunci kesuksesan dalam menterjemahkan konsep menjadi sesuatu yang nyata dan dapat dinikmati oleh orang banyak.

Keranjingan Audio Visual

Beberapa minggu terakhir saya sedang banyak berkutat dengan produksi audio visual, yang saya terbitkan di internet dalam format yang biasa disebut vlog, atau video blog. Sementara itu, ekspresi audio adalah media yang membawa saya masuk ke apa yang disebut industri kreatif 20+ tahun yang lalu. Jadi wajar jika audio memiliki tempat khusus buat saya, termasuk dalam produksi audio visual.

Merekam audio itu gampang, merekam audio berkualitas itu yang susah, atau dengan kata lain memerlukan pengetahuan khusus. Namanya juga audio visual, gabungan keduanya baru akan menciptakan media yang efektif untuk menyampaikan pesan. Jadi visual saja tidak cukup, perlu audio yang mumpuni. Bahkan, banyak bukti bahwa produksi visual boleh kompromi, selama audio baik. Saya setuju.

Secara teknis, rekaman audio yang baik adalah mendapat hasil audio yang tidak terkompresi, memiliki sampling rate dan kedalaman yang baik, terekam antara -20db dan -12 db, serta memiliki ruang level yang masih bisa diperbesar. Untuk mencapai keadaan ini, diperlukan cara dan alat yang tepat.

Cara dan Peralatan yang Tepat

Pada dasarnya ada 2 jalur yang dapat dilakukan untuk merekam audio ke dalam visual, yaitu dengan menggunakan mikrofon internal dari kamera dan menggunakan tambahan mikrofon eksternal. Sering kita harus kompromi antara kualitas dan situasi yang tidak ideal. Maka dari itu, kadangkala merekam dengan microphone internal tidak terhindarkan. Jika memungkinkan, merekam menggunakan mikrofon eksternal sebaiknya selalu dilakukan.

Merekam dengan Mikrofon Internal

Hampir semua kamera modern memiliki mikrofon internal. Tetapi kebanyakan mikrofon tersebut juga menggunakan kompresi yang tinggi. Karenanya tidak bisa diandalkan untuk mendapat hasil audio yang baik. Tetapi kelebihan dari cara ini adalah kemudahan. Jika mendapat ide atau momen yang tepat, Anda tinggal menyalakan kamera, dan shoot.

Jika Anda memiliki pengalaman merekam audio dan kamera memiliki setting manual, maka gunakan setting tersebut untuk merekam dalam ruangan. Untuk penggunaan luar ruangan dan jika tidak ada pengalaman merekam audio, sebaiknya gunakan setting audio auto. Prinsipnya, semakin dekat mikrofon ke sumber suara, semakin baik suara yang dihasilnya. Jadi jika Anda merekam dengan mikrofon internal, cari posisi mikrofon pada kamera Anda dan usahakan sedekat mungkin dengan mulut Anda.

Merekam dengan Mikrofon Eksternal

Cara kedua adalah tidak mengandalkan mikrofon internal untuk mendapat kualitas audio yang lebih baik, tetapi menggunakan mikrofon eksternal. Ada beberapa cara:

  1. Merekam langsung ke input kamera.
  2. Merekam ke alat perekam audio.

Untuk mempersingkat proses produksi dan paska produksi, sejauh ini saya hanya menggunakan cara pertama, yaitu merekam langsung ke input kamera.

1. Merekam langsung ke input kamera

Cara ini sangat direkomendasikan untuk first person filmmaking atau single shooter, seperti saya. Karena sistemnya sangat sederhana. Intinya, teknik ini adalah menggunakan mikrofon eksternal yang langsung disambungkan ke kamera. Mikrofon ada 2 jenis, yaitu mikrofon lavalier dan shotgun.

Kelebihan mikrofon lavalier adalah lebih leluasa untuk bergerak ketika shooting karena biasanya bersifat menangkap suara dari segala arah atau omni directional. Selain itu, mikrofon lavalier cenderung lebih konsisten karena dekat dari sumber suara (biasanya disangkutkan ke baju). Kelemahannya adalah set mikrofon lavalier yang menggunakan kabel harga cenderung murah, tapi badan kita jadi “terikat” ke kamera dan panjang kabel hampir bisa dipastikan kepanjangan dan bikin ribet. Sementara itu set yang nirkabel, harganya sudah bisa dipastikan tidak murah.

Mikrofon shotgun biasanya disimpan di atas kamera melalui dudukan yang disebut hot shoe. Mikrofon jenis ini ideal digunakan untuk shooting dimana sumber suara bisa dekat dengan kamera (ini menimbulkan masalah baru, yaitu harus memiliki lensa yang wide angle) untuk shooting outdoor dan untuk set up cenderung lebih sederhana daripada lavalier. Kelemahannya adalah ketika sumber suara jauh dari kamera, maka suara yang direkam tidak bisa optimal. Biasanya shooting untuk single shooter, shotgun bisa “ditodong” ke dekat mulut menggunakan mic stand yang harganya relatif murah, atau menggunakan boom pole jika ada yang membantu memegang.

2. Merekam ke Audio Recorder

Teknik yang digunakan untuk produksi film profesional adalah merekam audio ke alat perekam dan disinkronisasi dengan visual pada proses paska produksi. Meski kualitas audio yang dihasilkan akan jauh berkualitas, teknik ini hampir tidak memungkinkan dilakukan oleh single shooter karena peralatan yang dibawa dan dioperasikan menjadi sangat banyak. Menambah alat berarti menambah resiko kesalahan. Karenanya saya tidak akan bahas di artikel ini.

Saat merekam

Setelah tahu teknik merekam apa yang akan digunakan, maka ada beberapa yang harus dipastikan terjadi ketika proses merekam:

Tempatkan mikrofon di tempat yang tepat

Seperti sudah dibahas di atas, teknik kunci untuk mendapat audio yang optimal adalah ketika sumber suara berada dekat dengan mikrofon. Jadi posisi mikrofon sangat penting. Untuk pengguna lavalier, simpan di kemeja di bawah kancing paling atas. Jika menggunakan kaos, simpan di bagian atas lingkaran leher kaos. Pengguna shotgun, todongkan mikrofon sedekat mungkin ke mulut, jangan lupa pastikan mikrofon tidak masuk ke dalam sudut pandang kamera.

Nyalakan semua peralatan

Untuk perekaman dengan mikrofon eksternal, ada kesalahan yang sering dilakukan oleh vlogger profesional sekalipun: lupa menyalakan mikrofon. Ada jenis mikrofon eksternal yang tidak menggunakan power tambahan (biasanya untuk nge-boost level mikrofon), misalnya Rode VideoMicro. Jenis mikrofon ini tidak perlu dinyalakan, cukup dicolok ke kamera maka dia akan menggunakan power dari kamera. Sementara untuk mikrofon seperti Rode VideoMic Pro, maka selalu pastikan mikrofon menyala.

Tes, sesuaikan dan monitor suara yang dihasilkan

Di kamera biasanya ada audio monitor level, pastikan tidak “peak” atau jangan lebih dari -12db. Gunakan headphone monitor untuk memastikan suara jelas. Headphone Audio Technica ATH-M20 harganya terjangkau tetapi cukup baik untuk menjadi monitor. Sebagai single shooter, biasanya tidak ada waktu lagi untuk monitor audio ketika merekam karena harus fokus untuk shooting konten. Makanya sebaiknya semua dipastikan berjalan dengan baik sebelum merekam.

Setelah selesai, matikan dan bereskan seperti sediakala

Ini seperti tips yang remeh, tapi sebenarnya sangat penting untuk mendapati semua alat tersimpan di tempat yang sudah ditentukan karena akan memudahkan persiapan untuk produksi berikutnya.

By Robin

Jack of all trades living in SF Bay Area, California. Asian.

2 comments

  1. the besssttt …. ini saya sedang pikirkan juga karna sekarang saya sedang belajar ngevlog dan kebetulan pake kamera mirroless yang ga ada jack mic inputnya

    lagi nyari solusi biar audio suaranya mantaap karna video bagus tapi suaranya kurang oke agak kurang enak nontonnya whehehe

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *