Dilarang Komentar

Update 14 Maret 2017: Saya menutup komentar Google+ dan membuka kolom komentar standar yang bisa digunakan semua orang.

Update 14 April 2016: Saya membuka komentar untuk pengguna Google+.

Sudah lama saya ditanyai berulangkali di media sosial:

“Om, di website memang ga bisa komentar ya?”.

Selama ini saya hanya bisa menjawab dalam 140 karakter.

Tadi pagi saya pikir, daripada saya coba jelaskan berulang kali, lebih baik saya buat saja 1 post yang menjelaskan. Jadi setiap ditanya, saya bisa memberikan link ke halaman ini saja.

Saya memutuskan untuk menutup komentar di tahun 2013 karena:

  1. Sejak tahun 2006, saya mempublikasikan 886 artikel dan mendapat 1,029 komentar di RobinMalau.com, Jadi rata-rata 1 artikel mendapat 1-2 komentar. Sebenarnya tidak buruk untuk blog pribadi. Tapi, selain komentar yang legit, ada juga 321,735 komentar spam. Beberapa ratus kali lipat lebih banyak. Angka ini menunjukkan bahwa komentar di blog sudah menjadi komoditi bagi spammer dan menambah pekerjaan saya untuk memoderasi sebagian dari mereka yang lolos dari proteksi spam.
  2. Jumlah komentar juga tidak sebanding dengan pengunjung. Sejak tahun 2006, tercatat 410.000 pageviews dari 247,040 unique visitors yang datang. Tapi hanya 1,029 komentar yang terkirim.
  3. Mengirimkan komentar dibutuhkan effort yang tidak perlu, seperti mengisi kolom nama, kolom alamat email dan kolom web address sebelum memberikan komentar. Dilain pihak, saya yang sudah telanjang dengan memberikan semua informasi tentang saya di sini tidak akan membiarkan identitas anonimus untuk berkomentar di website ini. Di media sosial, Anda sudah pasti login ketika melihat link ke website ini dan komentar Anda akan terkait dengan sebuah identitas.
  4. Sebagian besar orang tidak pernah membaca sebagian besar materi yang berada di bawah sebuah website (termasuk komentar, footer, icon media sosial yang ada di bawah dan lain sebagainya). Jadi, sebagian besar orang yang datang kesini tidak melihat atau membaca komentar. Jika komentar dalam sistem blogging diciptakan untuk melanjutkan diskusi, maka hal tersebut tidak berjalan sesuai rencana.
  5. Komentar sering keluar dari konteks dan merusak segalanya di search engine. Sejak tidak ada komentar, website ini jadi lebih bersih dan saya memiliki kendali atas konteks yang saya inginkan berada di sini.

Untuk sebagian besar blogger, komentar adalah daya tarik untuk blogging. Mereka senang mendapat komentar di blog nya. Saya juga senang mendapat komentar dan berdiskusi. Tapi, tidak disini:

  1. Jika Anda ingin berkomentar, silahkan menulis respon di blog Anda sendiri. Berikan link ke artikel yang Anda maksud.
  2. Berikan respon di media sosial. Jika Anda mengikuti saya di Google+Twitter, atau menjadi bagian dari beberapa ratus koneksi saya di LinkedIn, Facebook dan Path, maka Anda akan menemukan semua link ke artikel di website ini. Seperti point 3 diatas, Anda lebih mudah memberi komentar disana.

By Robin

Jack of all trades living in SF Bay Area, California. Asian.

0 comments

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *