Menyusun Cetak Biru Industri Musik Indonesia

2014-05-30 17.01.55
Jumat Minggu lalu, bersama belasan peserta lainnya, saya ikut berkontribusi untuk memberi rekomendasi kepada Kementrian Pariwisata dan Industri Kreatif. Apa yang sedang disusun oleh kementrian yang hanya ada di Inggris dan Indonesia ini? Cetak biru industri musik Indonesia. Wow. Binatang apa itu?

Latar Belakang

Sebelum masuk ke apa yang kami bicarakan dan bagaimana hasilnya, mari melihat dulu ke belakang, apa tujuan pembuatan cetak biru ini dan mengapa saya perduli. Latar belakangnya adalah:

  • Tidak ada peta industri Musik Indonesia
  • Penyebab lain… (banyak)

Mengetahui latar belakang pertama saja sudah cukup membuat saya untuk mau berkontribusi, mencurahkan pikiran dan waktu untuk ikut menjadi narasumber di Focus Group Discussion (FGD) yang diadakan di kantor Kemenparekraf di daerah Medan Barat tersebut. Intinya, jika peta sistem saja belum ada, bagaimana kita bisa membuat industri? Sebagai catatan, FGD yang saya hadiri kemarin adalah FGD ke 2, dimana pelaksanaan FGD ke 1 dilakukan ketika saya sedang berada di London untuk acara bersama British Council di program Young Creative Entrepreneur sehingga tidak bisa ikut menghadiri meski di undang. Sebelum FGD kedua tersebut, anggota tim pencatat sudah menemui peserta-peserta FGD untuk menerima masukan perihal peta musik, dimana penyusunan peta di FGD pertama dinilai kurang berhasil karena kurangnya kesiapan penyelenggara dan peserta yang tidak kooperatif.

FGD ini dibagi dalam 3 tahap, yaitu:

  1. Penyusunan peta industri musik Indonesia (expected outcome: Sistem Industri Musik Indonesia).
  2. Identifikasi potensi dan peluang, serta ancaman dan masalah industri musik Indonesia (expected outcome: SWOT Analysis dan penentuan prioritas masalah dan peluang Industri Musik Indonesia).
  3. Penentuan Strategi pemecahan masalah dan optimalisasi peluang (expected outcome: rekomendasi strategi kepada Menparekraf).
D-Day, 30 Mei 2014

Karena jarak yang jauh dari rumah, saya berangkat jam 6:30 dengan menggunakan taksi, agar bisa tiba sebelum jam 9. Sesampainya disana jam 8:15, saya disambut pemandangan yang tidak lazim buat saya, yaitu karyawan departemen yang ramai-ramai sedang senam pagi di lapangan parkir. Sambil senyum-senyum sendiri membayangkan yang tidak mungkin terjadi (seperti bagaimana jika misalnya karyawan majalah Trax atau Rolling Stone Indonesia senam pagi bersama) saya menelepon Yudhis, staff Kemenparekraf yang juga menjadi penghubung kami semua, untuk menanyakan tempat berlangsungnya acara nanti. Ternyata ada acara pembukaan terlebih dahulu di Balairung lantai 1 yang kemudian dilanjut dengan FGD di lantai 11.

Sebelumnya saya mendengar isu sekelebat bahwa sektor lain sudah selesai FGD, hanya sektor musik yang belum. Tapi ternyata di acara pembukaan saya baru tahu bahwa ternyata ada FGD selain Industri Musik, yaitu industri kreatif di sektor-sektor lainnya termasuk kuliner, fashion, seni pertunjukan dan animasi. Di ruangan besar tersebut berkumpul tokoh-tokoh dan pelaku industri kreatif Indonesia. Saya sempat bersapa ringan dengan beberapa dari mereka. Saya tersadar akan skala projek Kementrian ini, masif. All the best of luck untuk semua yang terlibat.

Setelah beramah-tamah sambil menunggu lift, akhirnya acara FGD di mulai tepat waktu jam 10:00 dibuka oleh Julianus Limbeng, staf kementrian Parekraf yang berlatar belakang musisi dan moderator Andre ’Opa’ Sumual, Editor in Chief majalah Trax yang langsung disambut presentasi dari tim pencatat yang terdiri dari Dina Dellyana dan Fikri dari SBM ITB.

Sejak awal FGD saya pribadi merasa nyaman karena selain sikap dari staff Kemenparekraf yang bersahabat, juga karena saya mengenal sebagian besar peserta yang di undang oleh Kemenparekraf (berdasarkan rekomendasi dari peserta). Meski tidak semua bisa bisa di undang, tapi setidaknya beberapa orang yang mempunyai reputasi berpikir kritis dan membangun seperti Widi Asmoro dari Microsoft Indonesia, Arian 13 dari band Seringai, dan Adib Hidayat serta Wendi Putranto dari Rolling Stone Indonesia tampak hadir dan bersemangat. Catatan peserta lainnya, peserta yang hadir juga menekankan perlunya beberapa nama lain untuk di undang di FGD berikutnya agar tidak ada isu penting yang terlewat.

Peta Musik Industri Musik Indonesia

Dina membuka dengan isu Peta Industri Musik Indonesia. Peta ini juga menjadi diskusi antara tim pencatat dengan peserta FGD, dimana peserta menyumbangkan pikirannya ke peta tersebut. Saya sendiri menyumbang 2 pilar yang menurut saya penting, yaitu:

  • Community Building

Mengapa Community Building itu penting? Dari sisi kreasi, ada beberapa elemen yang harus dibina sejak dini, yaitu anak berusia belasan tahun yang memiliki minat musik. Tidak hanya perlu dibekali dan diajari keterampilan bermusik, tapi anak-anak ini juga perlu diberikan bekal bisnis dan berorganisasi sejak dini. Ini sangat penting untuk memelihara minatnya untuk menjadikan musik menjadi profesi. Hal ini bisa dicapai dengan menggunakan metoda community building, yaitu dengan melewati organisasi yang bukan organisasi pendidikan, tapi lebih mengacu pada komunitas. Contoh yang berhasil adalah Roundhouse di London.

  • Collaboration space

Buat saya, pelaku industri kreatif pada dasarnya adalah individu yang mampu berpikir mandiri dan menghasilkan perbedaan, yang jika diramu dengan benar bisa menjadi sebuah kreatifitas yang memiliki nilai komersial. Yang dinamakan industri kreatif, seharusnya bisa menghasilkan kolaborasi antar individu tersebut, dan outcome nya adalah inovasi. Kolaborasi bisa membuat inovasi dengan metoda leverage, dengan membuat persinggungan antar pelaku untuk menghasilkan sesuatu yang baru. Hasil dari orang kreatif 1 ditambah orang kreatif 2 tidak akan menjadi 2 seperti rumus 1+1=2, tetapi 1+1 bisa = 3, 4, 5 dan lebih banyak lagi.

Nah, karena peta ini sebelumnya sudah diperbaiki atas saran peserta, maka sudah tidak banyak lagi yang perlu dibahas. Hanya memerlukan kesepakatan bahwa semua yang dibutuhkan sekarang sudah tercakup dan, yang tak kalah penting adalah kesempatan untuk mengubah peta di masa depan, karena secara alami sistem industri akan selalu berubah sesuai dengan jaman. Kesepakatan ini pun kami capai dalam waktu yang tidak lama.

Masalah dan Peluang Industri Musik Indonesia

Karenanya kami tidak lagi perlu membuang banyak waktu dan bisa masuk ke topik utama FGD 2 yaitu menyusun prioritas peluang dan masalah di industri. Banyak isu yang harus diangkat, yang secara teknis sudah di bahas blog Widi Asmoro. Khusus untuk Music Licensing, menurut saya itu adalah sebuah isu yang paling tinggi urgensinya. Karena tanpa bisnis lisensi, maka industri musik bukanlah menjadi industri intelektual, tetapi hanya seperti menjual barang biasa saja. Rilis album, dibeli albumnya, dapat duit, selesai. Masih banyak cara untuk membuat musik menghasilkan uang dari kerjasama lisensi, itulah makanya musik menjadi sebuah wilayah intelek. Untuk selengkapnya tentang Music Licensing, silahkan menonton wawancara saya dengan Hang Dimas di link ini. Seperti saya sampaikan di atas, FGD ini akan ada lanjutannya.

Pelajaran

Ada beberapa pelajaran yang saya dapat dari kumpul-kumpul FGD kemarin. Tidak hanya dari acara FGD itu sendiri yang mengenalkan saya dengan orang-orang penting di industri musik Indonesia seperti Eki Puradireja (Humania, Director di Java Jazz Festival) dan Ventha Lesmana (General Manager ASIRI), tetapi juga proses menuju FGD itu sendiri.

  1. Di industri musik Indonesia banyak orang pintar tapi kenapa hasilnya cuma segini? Karena kita perlu bantuan pemerintah, terutama dari sisi hukum dan pelaksanaannya. Untuk hal ini, sehebat dan se-mandiri apapun kita, tidak bisa sendiri.
  2. Konten adalah masalah kedua, karena setiap masa kebutuhan industri musik akan selalu berubah. Yang lebih penting buat saya adalah konteks, yaitu bagaimana meningkatkan produktifitas musisi (dari menciptakan musisi baru hingga membuat mereka profuktif membuat karya) dan di sisi lain, adalah bagaimana meningkatkan konsumsi musik masyarakat Indonesia agar industri musik bisa sejahtera.
  3. Yang paling penting daripada dukungan pemerintah adalah, bahwa pelaku industri tidak berhenti berteriak jika ada gagasan dan melihat ketidakbecusan. Ketika kita berhenti berusaha, maka kita akan mati.
  4. Membangun industri musik indonesia itu berdarah-darah. Tapi jika ini berhasil, kemungkinan kita bisa merubah nasib anak cucu kita yang ingin jadi musisi menjadi lebih baik daripada angkatan kita! 😀

Setelah hampir setahun, akhirnya dokumentasi ini bisa di download di Rencana Pengembangan Musik Nasional 2015-2019. Mudah-mudahan masih relevan.

By Robin

Jack of all trades living in SF Bay Area, California. Asian.

0 comments

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *