WHO WILL FINISH THE SKANKIN’ PROJECT?

A Short History of Noin Bullet

Menghabiskan waktu bersama melakukan hal-hal yang disukai secara kolektif adalah ciri komunitas. Yang paling penting adalah adanya kesamaan yang membuat lebih dari satu manusia berinteraksi, satu sama lain dan menjadi sebuah kelompok dan menghasilkan sesuatu. Manusia butuh berkelompok, sudah dari sononya. Band adalah salah satu kesempatan untuk memuaskan keinginan manusia untuk berkelompok.

Noin Bullet adalah band Ska, noone can change that! Ini adalah band yang bersama sejak tahun 1997. Waktu itu, sahabat karib; Herul dan Tomi Londok terlalu sering jalan bareng menghabiskan waktu sampai berpikir yang ngga-ngga; bikin band! Damn, reality bites baby, berawal dari kesepakatan bahwa being in the band is cool, dan tau-tau sudah 7 tahun terlewati. Pada masa pencarian jati diri, line up awal hanya tahu untuk membuat lagu, sampai akhirnya mentok ke arah musik seperti yang dimainkan 311. Setelah dikenalkan teman-teman di komunitas punk rock Bandung kepada Mighty-Mighty Bosstones, band ini semakin yakin dengan apa yang mereka inginkan; yaitu bermain musik ska. Mulai ditemukannya jati diri band ini diikuti oleh masuknya Hadi, sebagai vokalis kedua, yang tak lain merupakan adik kandung Herul sendiri.

1997
Ketika itu musik mereka hanya berada di sekitar up stroke picking gitar dan sudah merasa cukup ska. Semakin lama bersama, semakin mereka meng-eksplore arah musikal mereka. Saat itu mulai terasa dibutuhkannya brass section dan mereka pun merekrut beberapa pemain alat musik tiup. Lagu-lagu awal mereka adalah Yesterday Cookies dan Bakakak Hayam. Tawaran show pun berdatangan luar biasa, panggung demi panggung pun mereka lewati.

1998
Orang-orang mulai demam musik ska, dan Noin Bullet pun menjadi tokoh sentral di tanah air saat itu. Demo tape mereka yang dipasang di GMR FM saat itu menjadi tonggak hingga mereka sampai ke pencapaian mainstream. Pada tahun ini, Noin Bullet berhasil menelurkan sebuah mini album ALL CAN SKA CAN ALL yang tanpa ampun terjual 1500 keping dalam waktu 3 minggu saja! Tak lama, Warner Music Indonesia kepincut dan menawarkan kontrak melalui Richard Mutter dan Ambar sang legenda, dan anak-anak ini menandatangani perjanjian dengan perusahaan rekaman dengan network yang sangat luas itu.

1999 – 2000
Pada tahun 1999 album major label debut mereka rilis dan album BEBAS yang laris manis di pasaran membuat weekend anak-anak muda ini ngga pernah kosong. Mereka hidup di jalan. Walhasil, selain kelompok ska seperti TIPP EX dan JUN FANG GUNG FOO, Noin Bullet adalah grup musik yang sangat diperhitungkan. Well, seperti biasa industri melakukan eksploitasi habis-habisan, mumpung ska lagi bisa jualan, dan Noin Bullet pun selain mendapat keuntungan tentunya mendapat imbas negatifnya. Antipati mulai muncul di panggung-panggung mereka, meski pelakunya minor saja, tetapi tetap menganggu. Kebayang, kamu yakin betul dengan apa yang kamu lakukan tetapi tiba-tiba muncul manusia-manusia yang bahkan kamu tidak kenal marah, bahkan sangat marah atas apa yang kamu lakukan. Apapun alasan mereka, tetap saja terasa menyakitkan. Sepertinya semua yang kita lakukan tidak ada yang benar dan hidup kita ini salah. Tetapi sebaliknya, pasar merespon dengan sangat manis, album BEBAS terjual 65.000 kopi.

Tour yang mereka lakukan sepanjang masa promosi benar-benar luar biasa. Kota besar dan kota kecil mereka jabanin sampai habis. Sebutlah, Cirebon, Solo, Semarang, Jogja, Surabaya, Malang, Bali, Medan, Tegal, Tasikmalaya, Sukabumi, Purwakarta, Cianjur dan tentunya Jakarta, sudah merasakan Noin Bullet. Jadi mereka sudah cukup melanglang buana, imbas positif dari eksploitasi ska besar-besaran di industri musik Indonesia. Di tahun 2000 mereka juga menandatangani kontrak perjanjian dengan perusahaan pakaian lisensi dari Australia, Quiksilver yang membantu mereka memberikan outfit untuk penampilan mereka.

Anak-anak ini begitu sibuk dan menikmati manisnya menjadi band yang dipanggil manggung dimana-mana, sampai tidak sadar bahwa deadline album kedua sudah hampir tiba. Damn, seluruh tenaga yang tersisa dikumpulkan, di manage untuk menghasilkan album berdurasi 50 menit yang diharapkan layak untuk dijual menurut kacamata industri. Orang gila, dalam waktu 2 bulan terciptalah seluruh materi untuk album baru mereka di tengah-tengah kesibukan manggung dan kegiatan promosi lainnya. Produksi album dimulai pada akhir tahun 2000.

2001
Di tahun ini album kedua mereka yang berjudul MANUSIA rilis ke pasaran, album yang terasa lebih dalam dalam penggarapannya ini tidak diikuti oleh respon pasar. Ternyata pasar sudah kembali ke orbitnya semula. Bahkan sepertinya mereka tidak pernah mengenal musik ska, mereka tidak suka ska. Walhasil album ini hanya bisa terjual 15.000 kopi saja. Label pun sudah ogah-ogahan memberikan support promosi. Serangan dan tekanan bertubi-tubi itu diikuti oleh permintaan panggung yang tiba-tiba turun. Jika sudah begini, pada akhirnya, band yang selalu disalahkan, selalu begitu… are we cursed?

Setelah sampai di masa tersebut, anak-anak yang sudah sempat menjadi seperti keluarga ini mulai jenuh berkumpul karena kurangnya kegiatan. Mereka mulai mencari kesibukan sendiri. Mereka bosan. Dampak dari penonton ricuh masih terasa begitu menyakitkan. Penghasilan band pun sedikit demi sedikit berkurang dan akhirnya sampai satu persatu personil menyatakan mengundurkan diri dari band. Tahun 2001 adalah tahun suram untuk ska, tahun suram untuk Noin Bullet. Sepertinya benar, ska mati.

2002 – 2004
Ketika semua sedang lesu, tiba-tiba datang tawaran untuk ikut serta dalam kompilasi A Tribute To Persib, klub sepakbola kecintaan warga Bandung. Personil yang tersisa setuju untuk ikut serta. Walhasil terciptalah single Ngga Usah Rusuh. Lagu ini memberikan lonjakan musikal yang cukup signifikan. Dub dan reggae sebagai elemen musikal yang sangat penting bagi lahirnya musik ska sangat berpengaruh pada terciptanya lagu ini. Bersamaan dengan single ini pula Noin Bullet membuktikan bahwa ska itu masih hidup dan ska bukan hanya masalah brass section dan upstroke picking guitar. Ada keyakinan bahwa band mau memainkan musik apa saja, meskipun sudah tidak ‘in’ tetapi jika band itu memiliki sesuatu, akan tetap stand out di tengah-tengah band dan gejolak musik yang baru muncul. Mengapa band ini ikut di kompilasi tersebut, alasannya? Kangen nge-band. Sesimple itu untuk member yang lain kecuali Herul. Herul yang juga dipanggil ‘mas’ inipun terus berjuang untuk menyelamatkan Noin Bullet. Herul terus saja menciptakan lagu untuk Noin Bullet. Hasil dari eksplorasinya mengantarkan kepada kenyataan bahwa dub bukan soul dari Noin Bullet. Noin Bullet bukan anak pantai, Noin Bullet anak gunung. Noin Bullet itu bukan dub, Noin Bullet itu ska.

Untuk memperkaya khasanah musikalnya, Herul terus saja menambahkan vibe dari musik lain ke dalam lagu-lagu ciptaannya, seperti swing, yang juga sangat mempengaruhi band-band klasik ska dan two tone, seperti sang legenda; The Specials. Kemudian juga mencampurnya dengan nuansa dub dari band seperti Long Beach Dub Allstar dan 311. Noin Bullet semakin yakin dengan ska, dan semakin menemukan alasan yang tepat untuk mencampurkan aransemen musik ska klasik hingga modern menjadi musik Noin Bullet sekarang ini. Ada proyek skankin’ yang harus diselesaikan, Noin Bullet yang akan menyelesaikannya.

Originally published in www.noinbullet.com

By Robin

Jack of all trades living in SF Bay Area, California. Asian.

0 comments

  1. Bro, keren abis ceritanya. Saya maniak ska sejak booming ska awal tahun 2000-an dulu, tapi kurang referensi tentang perkembangan band-band ska. Orang saya tahu album keduanya Noin Bullet juga gak sengaja waktu ke swalayan. 😀

    Btw, saya nyari2 album Manusia yang versi MP3 nih. Tapi setelah ngubek-ngubek ke sana kemari dapetnya cuma lagu Pagi Hari aja. Anybody help me, please?

    Btw, thanks sudah share cerita keren ini. Salam buat Noin Bullet. I miss them all…

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *